Kritik Salafy Yang Menghalalkan Fallacy

Posted: April 7, 2010 in Kritik pemikiran islam

Kritik Salafy Yang Menghalalkan Fallacy (Ambillah Kebenaran Dimana Saja Ia Berada)
Seorang saudara seiman pernah membuat tulisan yang menarik dengan judul Lihatlah Siapa Yang Berbicara. Tulisan ini menarik untuk dibahas(walaupun sebenarnya tulisan ini hanyalah kutipan dari sumber lain).Oleh karena itu tanpa mengurangi rasa hormat saya padanya(walaupun banyak sekali perbedaan antara saya dan dia), Saya akan menanggapi tulisan saudara itu yang menisbatkan dirinya dengan Salafy.

Jangan Lihat Siapa Yang Berbicara, Tapi Lihat Apa yang Dibicarakan

Kata-kata ini adalah yang sering sekali didengar oleh banyak orang. Secara pribadi saya sangat setuju dengan kata-kata ini. Kebenaran, Hikmah dan Ilmu bisa berasal dari mana saja walaupun memang tidak bisa dinafikan bahwa mengambil dari orang-orang yang berilmu adalah lebih baik.
Saudara Antosalafy dan saya rasa pengikut Salafy sejenis dia sangat tidak setuju dengan kata-kata ini dan tidak segan-segan mereka menolaknya dengan berkata

Ucapan tadi sengaja dipopulerkan oleh orang-orang yang bermanhaj di sana senang di sini senang, sehingga mereka mengambil ilmu atau belajar dari siapa saja karena berpegang dengan ucapan tadi.

Tulisan ini adalah murni Penolakan saya terhadap klaim-klaim Mereka yang berlebihan
Saya setuju bahwa kebenaran bisa diambil dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah tetapi sayangnya itu tidak menafikan bahwa orang lain atau kelompok lain bisa juga mengatakan hal yang benar. Bersikap seolah kebenaran hanya terbatas pada kelompok tertentu dan menyatakan sikap seolah-olah setiap yang dikatakan orang lain yang berbeda kelompoknya adalah salah jelas merupakan tindakan berlebih-lebihan yang melampaui batas. Melampaui batas karena melihat dirinya serba cukup.

Ketahuilah, Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS Al ‘Alaq ; 6-7)

Penolakan Pertama Atas Dasar Rasional
Pada awalnya Mereka berkata dengan penuh keyakinan bahwa

ini bukanlah firman Allah, sabda Rasulullah ataupun kaidah ushul fiqh, sehingga kita tidak usah dipusingkan dengan ucapan tersebut.

Sayang sekali, mereka tidak memahami prinsip-prinsip universal yang disampaikan oleh Al Quran. Seolah-olah mereka tidak memahami bahwa kebenaran agama-agama Samawi ditegakkan atas prinsip Dengarkan Apa Yang Disampaikan Dan Pikirkan. Bukankah mereka yang diseru oleh para Nabi melandaskan pikirannya pada status quo bahwa beginilah bapak-bapak kami melakukannya. Bukankah mereka yang diseru oleh para Nabi itu hanya menerima apa saja yang sudah diwariskan nenek moyang mereka, dan mereka menolak seruan para Nabi karena mereka tidak memikirkan apa yang disampaikan.
Menerima Kenabian di tengah Status Quo atau pandangan dimana hampir seluruh orang melakukan kesesatan jelas membutuhkan pemikiran yang mendalam. Kebanyakan orang akan terdistorsi dalam konformitas bahwa lebih aman dan benar melakukan seperti kebanyakan orang lainnya. Dalam lingkungan seperti ini Kenabian akan sulit diterima. Oleh karena itu Dalil Aqli atau Rasional merupakan alat bantu yang baik dalam menerima Kenabian. Banyak sekali dalam Al Quran Allah SWT mengingatkan kepada mereka yang mengingkari para Nabi agar menggunakan akalnya. Dengarkan wahai orang-orang yang berakal

Penolakan Kedua Atas Dasar Dalil Naqli Atau Skripturalis
Al Quranul Karim menyatakan bahwa salah satu tanda dari orang yang mendapat petunjuk dan berakal adalah orang yang mendengar perkataan dan mengambil yang paling baik di antaranya. Jadi adalah prinsip yang benar untuk mendengarkan perkataan dan mengambil yang paling baik diantara perkataan itu.

Yang Mendengarkan Perkataan Lalu Mengikuti Apa Yang Paling Baik Di Antaranya. Mereka Itulah Orang-orang Yang Telah Diberi Allah Petunjuk Dan Mereka Itulah Orang-orang Yang Mempunyai Akal. (QS Az Zumar ; 18)

Sekali lagi tidak dinafikan bahwa adalah baik untuk menerima kebenaran dari mereka, orang-orang yang lurus. Bahkan hal ini sangat benar. Tetapi adalah kekeliruan kalau mengklaim bahwa kebenaran itu terbatas pada kelompok tertentu. Dan setiap apa yang berasal dari kelompok lain atau orang lain adalah salah. Kebenaran tidak suka dipasung.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang selalu dapat belajar dan berpikir, sehingga mereka memiliki potensi untuk mendapatkan kebenaran, tentu dengan kadar yang berbeda-beda tiap manusia. Dan tidak ada salahnya bagi sebagian manusia untuk mengmbil hikmah dari sesamanya. Tidak ada aturan bahwa setiap manusia harus selalu sependapat satu sama lain sama halnya tidak ada aturan bahwa setiap manusia harus saling menolak satu sama lain. Setiap manusia bisa saling mengingatkan dan menasehati dalam kebenaran.

Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.(QS Al ‘Ashr ; 1-3)

Bahkan seorang Nabi AS saja dapat menerima nasihat dari orang lain yang lebih rendah kedudukannya

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang member nasihat kepadamu”. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa “Ya TuhanKu, selamatkanlah Aku dari orang-orang yang zalim itu”. (QS Al Qashash ; 20-21)

Hikmah sekali lagi bisa diambil dari mana saja, Al Quran menyatakan bahwa seorang manusia dapat mengambil hikmah dari seekor burung

Kemudian Allah SWT menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini? “ Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (QS Al Maidah ; 31)

Penolakan Ketiga Atas Dasar Pandangan Ulama Salafus Salih
Berikutnya adalah tanggapan terhadap kata-kata mereka

Apakah ahlus sunnah tidak memiliki kebaikan atau kurang kebaikannya sehingga kita harus mengambil ilmu dari ahli bid’ah?

Padahal Ulama Salafus Salih ternyata juga mengambil ilmu dari ahli bid’ah yaitu dalam masalah hadis, Berikut adalah salah satu Ahli bid’ah yang diambil hadisnya
Yahya bin Jazaar Al Urani Al Kufi
Dalam Tahdzib At Tahdzib XI hal 192 terdapat pandangan ulama hadis tentang beliau

• Ibnu Sa’ad berkata “Dia orang yang ghuluw di dalam kesyiahannya,namun ia seorang yang tsiqah dan memiliki sejumlah hadis”
• Al Uqaili meriwayatkan dari Hakim bin Utaibah yang berkata “Yahya bin Jazaar itu ghuluw dalam kesyiahannya”
• Al Ajli berkata “Seorang penduduk Kufah yang tsiqah tetapi Syiah”
• Ibnu Hibban memasukkan beliau dalam Ats Tsiqat

Bukankah dalam persepsi orang seperti Antosalafy dan orang sejenisnya, maka seorang Syiah adalah ahli bid’ah, mereka malah menyebut Syiah agama yang berbeda dengan Islam. Tetapi anehnya Imam Muslim, An Nasai, Ibnu Majah, Abu Daud dan Tirmidzi malah mengambil hadis dari Yahya bin Jazaar padahal sudah jelas Kesyiahannya.

Masih banyak contoh lainnya, tapi untuk saat ini cukup sampai disini saja

Nah, nilailah sendiri

Salam damai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s